Cari Blog Ini

Minggu, 22 Maret 2015

Makalah Agama Tentang Ilmu,Filsafat,dan Agama




BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan seseorang. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan selalu berusaha “memeluk” suatu kebenaran.
Dalam kehidupan manusia, kebenaran adalah fungsi rohaniah. Manusia didalam kepribadaian dan kesadarannya tak mungkin tanpa kebenaran.
Kebenaran agama yang ditangkap dengan seluruh kepribadian, terutama oleh budi nurani merupakan puncak kesadaran manusia.
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk pencari kebenaran, karena dalam dirinya selalu diliputi oleh rasa keingintahuan. Ketika rasa ingin tahu yang tak mungkin terbendung manusia selalu mencari dan mencari. Terdapat tiga jalan untuk menghampiri kebenaran itu yakni, ilmu pengetahuan, filsafat dan agama.  Namun ketiga jalan penemuan kebenaran itu memiliki kekhususan. Adapun kekhususan yang dimaksud adalah adanya titik persamaan, dan adanya titik perbedaan.

B.     Rumusan  Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan ilmu?
2.      Apa yang dimaksud dengan filsafat?
3.      Apa yang dimaksud dengan agama?
4.      Apa saja perbedaan ilmu pengetahuan, filsafat dan agama?
5.      Apa saja persamaan ilmu pengetahuan, filsafat dan agama?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan ilmu.
2.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan filsafat.
3.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan agama.
4.      Untuk mengetahui apa saja perbedaan ilmu pengetahuan, filsafat dan agama.
5.      Untuk mengetahui apa saja persamaan ilmu pengetahuan, filsafat dan agama.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    ILMU
1.      Pengertian
Kata ilmu secara etimologi berarti tahu atau pengetahuan. Kata ilmu berasal dari bahasa Arab ‘Alima – ya’lamu, dan science dari bahasa Latin Scio, scire artinya to know. Sedangkan secara terminology ilmu atau science adalah semacam pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri, tanda-tanda dan syarat tertentu. Berikut ini beberapa definisi ilmu yang dikemukakan oleh para ahli.
Ashley Montagu menyebutkan bahwa, “ Science is a systemized knowledge services from observation, study and experimentation carried on under to determine the nature of principles of what being studied,” ( Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang disusun dalam suatu system yang berasal dari pengamatan, studi dan pengalaman untuk menentukan hakikat dan prinsip hal yang sedang dipelajari ).
Dr. Mohammad Hatta; “ Tiap-tiap ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan kausal dalam satu golongan masalah yang sama tabiatnya, baik menurut kedudukannya tampak dari luar maupun menurut bangunannya dari dalam.”
Drs. H. Ali As’ad dalam buku Ta’limul Muta’allim, menafsirkan ilmu sebagai :         “ Ilmu adalah suatu sifat yang kalau dimilii oleh seseorang maka menjadi jelaslah apa yang terlintas di dalam pengertiannya.”
Dari berbagai definisi di atas kiranya dapat dipahami bahwa ilmu adalah sekumpulan pengetahuan yang diorganisir secara sistematis berdasarkan pengalaman dan pengamatan yang kemudian dihubungkan berdasarkan pemikiran yang cermat dan teliti dan dapat dipertanggung jawabkan dengan berdasarkan metode.

2.      Objek dan Ciri – ciri Ilmu Pengetahuan

Pada umunya objek atau lapangan ilmu pengetahuan itu ialah alam dan manusia. oleh para ahli, kedua objek tersebut dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok ilmu pengetahuan alam dan kelompok ilmu pengetahuan manusia.
Dalam membahas objek tersebut, misalnya dalam mempelajari tingkah laku manusia dengan berbagai aspeknya, maka ditinjau dari berbagai sudut pandang, yang disebut objek material dan objek formal. Objek material adalah objek atau lapangan jika dilihat secara keseluruhan. objek formal ialah jika dipandang menurut satu aspek atau sudut tertentu saja.

Adapun ciri-ciri ilmu pengetahuan dikemukakan oleh Randall sebagai berikut.
a.       Hasil ilmu sifatnya akumulatif, dan merupakan milik bersama. Artinya hasil daripada ilmu yang telah lalu dapat dipergunakan untuk penyelidikan dan penemuan hal-hal yang baru, dan tidak menjadi monopoli bagi yang menemukannnya saja. Setiap orang dapat menggunakan hasil penemuan orang lain.
b.      Hasil ilmu kebenarannya tidak mutlak, dan bisa terjadi kekeliruan karena yang menyelidiki manusia.
c.       ilmu itu objektif, artinya prosedur cara penggunanaan metode ilmu tidak tergantung kepada yang menggunakannya, tidak tergantung kepada pemahaman pribadi.

Prof. Drs. Hasojo mengutip pendapat Ralph Ross dan Ernest Van de Haag, bahwa ciri-ciri umum ilmu adalah sebagai berikut.
a.       Bahwa ilmu itu rasional.
b.      Bahwa ilmu itu bersifat empiris.
c.       Bahwa ilmu itu bersifat umum.
d.      Bahwa ilmu itu bersifat akumulatif.

3.      Klasifikasi Ilmu
Pembagian ilmu pengetahuan ini tergantung dari cara dan tempat ahli itu meninjaunya. Menurut pembagian klasik, ilmu pengetahuan dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu sebagai berikut.
a.       Natural science (kelompok ilmu-ilmu alam)
b.      Social science (kelompok ilmu-ilmu social)

Menurut UU Pokok Pendidikan tentang Perguruan Tinggi No. 22 Tahun 1961 di Indonesia, ilmu pengetahuan diklasifikasikan menjadi 4 kelompok, yaitu sebagai berikut.
a.       Ilmu Agama, terdiri dari : ilmu agam dan ilmu jiwa.
b.      Ilmu kebudayaan, terdiri dari : ilmu sejarah, ilmu pendidikan, dan ilmu filsafat.
c.       Ilmu social, terdiri dari : ilmu hukum, ilmu ekonomi, ilmu social dan politik, ilmu ketatanegaraan, dan ketataniagaan.
d.      Ilmu eksata dan teknik, terdiri dari : ilmu hayat, ilmu kedokteran, ilmu farmasi, ilmu kedokteran hewan, ilmu pertanian, ilmu pasti alam, ilmu teknik, ilmu geologi dan ilmu geografi.

Berbeda dengan para ilmuwan Muslim, seperti Alkindi, Alfaradi, Alghazali, dan Ibnu Khaldun, mereka mengklasifikasian ilmu menjadi 2 kelompok, yaitu sebagai berikut.
a.       Ilmu tanziliah, yaitu ilmu-ilmu yang  dikembangkan manusia terkait dengan nilai-nilai yag diturunkan Allah, baik dalam kitabNya maupun hadis-hadis Rasulullah saw., seperti : ulumul qur’an, ulumul hadis, usul fikih, tarikhul ambiyah, sirah nabawiyah, dan sebagainya. Masing-masing ilmu tersebut menghasilkan cabang-cabang ilmu lain, seperti dari ulumul qur’an lahir ilmu qiraat, ilmu asbabun nuzul, ilmu tajwid, dan lain-lain.
b.      Ilmu kauniyah, yaitu ilmu-ilmu yang dikembangkan akal manusia karena interaksinya dengan alam, seperti : ilmu-ilmu yang terkait dengan benda mati, melahirkan ilmu kealaman, yang terkait dengan pribadi manusia melahirkan ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora), yang terkait dengan interaksi antar manusia, lahir ilmu social. Ilmu kealaman melahirkan ilmu astronomi, fisika, kimia, biologi. Ilmu humaniora melahirkan ilmu psikologi, bahasa, dan lain-lain. Ilmu social melahirkan ilmu politik, ekonomi, hukum, dan lain-lain.

4.      Sumber Kebenaran Ilmu
Salah satu ciri ilmu pengetahuan dalam mencari kebenaran adalah dengan menggunakan rasio. Dan memang manusia diciptakana Allah dengan dibekali akal dan alat-alat kognitif lain, agar dengan alat itu manusia dapat mengadakan observasi, eksperimentasi dan rasionalisasi.








Artinya :
“ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Ia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar bersyukur.” ( An – nahl / 16 : 78 )

Sudah menjadi tugas manusia untuk mengolah dan memanfaatkan alam dengan segala isinya agar manusia dapat memakmurkan dan mensejahterakan hidupnya.




Artinya :
“ Dia telah menciptakan kamu dari bumi ( tanah ) dan menjadikan kamu pemakmurnya …” ( Hud / 11 : 61 )
Dalam hal mengolah dan memakmurkan alam ilmu pengetahuan memegang peranan penting. Sedangkan ilmu tidak akan berkembang tanpa adanya akal, maka dengan pemikiran dan ilmu pengetahuan manusia dapat merubah dan membentuk alam (nature) menjadi kebudayaan (kultur) dan dapat menciptakan sarana penghidupan yang lebih tinggi di dunia. Disamping itu dalam memahami ajaran agam pun harus berdasarkan landasan ilmiah yang kokoh. Begitu banyak ayat-ayat Alquran yang memotivasi manusia agar memiliki ilmu pengetahuan, dan Islam sangat menghargai keberadaan ilmu pengetahuan karena tidak sama kedudukan / derajat orang yang memiliki ilmu dengan orang yang tidak berilmu.



Artinya :
“ Katakanlah ! Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ?” ( Az – Zumar / 39 : 9 )





Artinya :
“ Allah akan meninggikan orang – orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat… “ ( Almujadalah / 58 : 11 )





Artinya :
“ Allah mengakui bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain– Nya, dan malaikat-malaikat mengakui orang-orang yang berilmu yang teguh dengan keadilan.” (Aliimran / 3 : 18 ).

Ilmu pengetahuan dengan segala tujuan dan artinya, banyak membantu manusia mencapai kehidupan yang lebih tinggi. Ilmu menghasilkan teknologi yang memungkinkan manusia dapat bergerak dengan cermat dan tepat, karena dengan ilmu dan teknologi manusia dapat mengubah wajah dunia dan dapat mengubah cara bererja dan berpikir serta dapat mengadakan perubahan-perubahan seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan zaman. Oleh karena itu, Allah menyeru kepada manusia untuk selalu berdoa agar ilmunya kian bertambah.







Artinya :
“ Maka Maha tinggi Allah Raja yang sebenar – benarnya, dan janganlah kamu tergesa – gesa membaca Alquran sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah ‘ya Tuhanku, tambahkanlah kepadau ilmu pengetahuan’.” ( Taha / 20 : 114 )


5.      Keterbatasan Ilmu
Pengalaman manusia tidak pernah sempurna, dan pengetahuan berkembang sepanjang pertumbuhan pengalaman nya, semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan semakin banyak hal-hal yang diketahui oleh para ilmuan, semakin banyak pula pertanyaan -pertanyaan yang muncul. Penemuan ilmiah takkan pernah selesai            (habis) karena senantiasa dikoreksi dan diperbaiki dari zaman ke zaman.




Artinya :
“ Kami tinggikan derajat orang-orang yang kami kehendaki, dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu adal lagi yang Maha mengetahui.” (Yusuf/12:76)

Akal manusia dan alat kegnitif lain yang dianugerahkan Allah bukanlah sesuatu yang sempurna dan tidak memiliki cacat. Struktur ingatan manusia, pendengaran, pandangan mata, memiliki kemampuan yang terbatas, yang dapat menyebabkan distorsi baik dalam pengambilan data observasi, eksperimentasi, dan rasionalisasi.





Artinya :
“ Kemudian pandanglah sekali, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatan itu pun dalam keadaan payah.” (Almulk/67:4)




Artinya :
“Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia serendah-rendah di bawah yang rendah.” (Attin:4-5)

Ilmu pengetahuan bukanlah tujuan, ilmu pengetahuan hanyalah sebatas alat dalam rangka mengolah sumber, dan dalam rangka pengembangannya daya piker manusia. Ilmu pada hakikatnya sebagai jembatan untuk mencapai kesejahteraan hidup di dunia dan keridhaan Allah di akhirat.

6.      Kewajiban Menuntut Ilmu
     Wahyu yang pertama turun kepada Nabi Muhammad saw,., member isyarat kepada manusia agar manusia belajar membaca dan menulis, agar dengan itu manusia akan memperoleh ilmu pengetahuan.









Artinya:
“ Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Dia mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan apa yang tidak diketahuinya.” (Al’alaq/96:1-5).

Dalam ayat lain Allah menyuruh manusia untuk memperdalam ilmu pengetahuan.




Artinya:
“Maka bertanyalah kamu kepada ahli ilmu, jika kamu tidak mengetahui (sesuatu).” (Annahl/16:43)

Rasulullah saw. bersabda




“Mencari ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan.” (H.R. Ibnu Majah )

Adapun kewajiban menuntut ilmu ada dua macam, yaitu sebagai berikut.
a.       Fardhu ‘ain, yaitu kewajiban menuntut ilmu yang terkait dengan individu muslim tentang pokok-pokok ajaran agama yang termasuk dalam rukun Islam (ibadah mahdhah) atau ibadah khusus.
b.      Fardhu kifayah, yaitu kewajiban menuntut ilmu yang keberadaannya terkait dengan kepentingan masyarakat muslim dan masyarakat umum. Kwajiban ini tidak mutlak, yakni apablia ilmu yang diperlukan ini sudah ditekuni dan digeluti oleh sejumlah ilmuan, sehingga mencukupi kebutuhan masyarakat, maka masih kekurangan sehingga jalannya pembangunan masyarakat terganggu, maka kewajiban tersebut masih ada dan menjadi tanggung jawab keseluruhan untuk mencukupinya.

B.     FILSAFAT
1.      Pengertian
Dari segi etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani philosophia. Philo dari kata kerja philein yang berarti mencintai atau philia yang berarti cinta. Sophia berarti kebijaksanan. jadi phisolophia adalah cinta akan kebijaksanaan atau pengetahuan yang benar. Orang yang cinta kepada kebijaksanaan atau pengetahuan atau kebenaran disebut philosophus atau dalam bahasa Arab failasuf.
Istilah philosophus pertama kali digunakan oleh Phtagoras (abad ke-6 SM) sedangkan istilah falsafah dan failasuf  (philosophia dan philosophos) itu sendiri baru popular dan lazim dipakai pada masa Sokrates dan Plato.



Dari segi terminology, pengertian filsafat telah dirumuskan dalam berbagai formulasi antara lain hal-hal berikut ini.
a.       Menurut Plato; “ia memberikan istilah filsafat dengan dialektika yang berarti seni berdiskusi. Dikatakan demikian, karena filsafat harus berlangsung sebagai upaya memberikan kritik terhadap berbagai pendapat yang berlaku”.
b.      Menurut Rene Descrates; “filsafat merupakan kumpulan segala pengetahuan, di mana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikannya”.
c.       Menurut Al Farabi; “filsafat adalah ilmu yang menyelidiki haikat yang sebenarnya dari segala yang ada (Al-‘Ilmu bil-maujadat fi ma hiya almaujudat).”
d.      Menurut ``Francis Bacon; “filsafat merupakan induknya dari ilmu-ilmu, dan filsafat mempunyai semua pengetahuan sebagai bidangnya,”

2.      Ciri-ciri Filsafat
Filsafat tejadi jika orang mempertanyakan atau mengkaji sesuatu maslah atau mendalami hakikat sesuatu secara sistematis, radikal, dan universal.
Sistematik berarti secara teratur dan tersusun sehingga merupakan pengertian, dan pendalaman tentang hakikat sesuatu ini disertai pembuktian yang dapat diterima akal dan tersusun berjalinan serta dapat dipertanggung jawabkan.
Radikal berarti berpikir sampai ke akar-akarnya, tidak kepalang tanggung, hingga kepada konsekuensi-konsekuensinya terakhir.
Universal ialah mencari kebenaran, dari kebenaran untuk kebenaran tentang segala sesuatu yang dipermasalahkan. Berpikir universal tidak berpikir khusus terbatas pada bagian-bagian tertentu, namun mencakup secara keseluruhan.
Berfilsafat adalah berpikir dengan sadar, yang mengandung pengertian secara teliti dan teratur sesuai dengan aturan-aturan dan hukum-hukum yang ada. Berpikir secara filsafat harus dapat menyerap secara keseluruhan apa yang ada, yang ada pada alam semesta, tidak terpotong-potong.

Seseorang baru disebut berfilsafat (bijaksana) apabila:
a.       ia mempunyai pengertian yang mendalam mengenai arti dan nilai,
b.      ia mendasarkan pendapat dan pandangannya tidak atas pertimbang-pertimbangan yang dangkal saja, tetapi melihat, meras, memperhatikan arti yang terdalam daripada semuanya.

3.      Objek dan Cabang Filsafat
Objek material filsafat ialah segala sesuatu yang dipermaslahkan oleh filsafat. Menurut Prof. DR. M. Langeveld, “… Bahwa hakikat filsafat itu berpangkal pada pemikiran keseluruhan sarwa sekalian secara radikal dan menurut system.”
Menurut DR. Oemar Amin Hoesin, “Karena manusia mempunyai pikiran atau akal yang aktif, maka ia mempunyai kecendrungan hendak berpikir tentang segala sesuatu dalam alam semesta, terhadap segala yang ada dan mungkin ada. objek tersebut adalah menjadi obje material filsafat.”
Al Kindi membagi filsafat dalam 3 lapangan:
a.       ilmu fisika (ilmu thibiyat) sebagai tingkatan terendah,
b.      ilmu matematika (alilmur-riyadhi) sebagai tinkatan menengah,
c.       ilmu ketuhanan (ilmu-rubbiyyah) sebagai tingkatan tertinggi.

Dari uraian para ahli, dapat ditarik kesimpulan bahwa “objek material” dari filsafat itu adalah segala sesuatu (realita). Sedangkan “hal ada” itu diklasifikasikan atas 2 golongan, yaitu sebagai berikut.
a.       Ada yang harus ada, yang disebut ada yang absolute (mutlak) yaitu Tuhan, pencipta alam semesta,
b.      Ada yang tidak harus ada, yang disebut ada yang tidak mutlak, ada yang relative (nisbi), bersifat tidak kekal, yaitu ada yang diciptakan oleh ada yang mutlak (Tuhan pencipta alam semesta).

Adapun objek formal filsafat, dikatakan bersifat nonfragmentaris, karena filsafat mencari pengertian realita secara luas dan mendalam. sebagai konsekuensi pemikiran ini, maka seluruh pengalaman manusia dalam semua instansi: etia, estetika, teknik, ekonomi, sosial, budaya, religious, dan lain-lain, harus dibawa kepada filsafat dalam pengertian realita. Dalam hal ini pemikiran filsafat menuntut bahwa seseorang ahli filsafat adalah sosok pribadi yang berkembang secara harmonis dan memiliki pengalaman-pengalaman secara autentik yang diperolehnya dalam dunia realita.

4.      Kegunaan dan Keterbatasan Filsafat
Persoalan-persoalan yang dihadapi manusia dari masa ke masa, menampakkan gejalan perkembangan kea rah yang semakin kompleks. Bila dulu persoalan manusia masih sangat sederhana, tetapi kian lama kian beraneka ragam sehingga pada akhirnya mengundang pemikiran-pemikiran yang beraneka ragam pula. Yang dibicarakan filsafat dari dulu hingga kini masih berkisar pada 3 pokok masalah, yaitu Tuhan, manusia, dan alam. Akan tetapi, aspek falsafi dari ketiga persoalan tersebut terutama alam dan manusia selalu berkembang, sehingga pemikiran dalam bidang filsafat semakin banyak pula.
Filsafat muncul sebagai manifestasi dari kegiatan berpikir manusia, mempertanyakan, menganalisis sampai ke akar-akarnya mengenai hakikat dari realitas yang ada dihadpannya. Naluri manusia itulah yang menimbulkan filsafat. Berfilsafat berarti berpangkalan kepada suatu kebenaran yang fundamental. DR. Oemar A. Hoesin mengatakan bahwa “filsafat itu memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, aan kebenaran.” Alfred North menyatakan bahwa “filsafat adlah keinsyafan dan pandangan jauh kedepan dan suatu kesdaran akan hidup, pendeknya kesadaran dan kepentingn yang member semangat suatu kesadaran akan hidup, pendeknya kesadaran akan kepentingan yang memberi semangat kepada seluruh usaha peradaban.” “Rene Descartes terkenal dengan ucapannya “ cogito ergo sum” (karena berpikir maka saya ada). M. Marlean Ponty menyatakan, “Jasa dari filsafat baru ialah terletak dalam sumber penyelidikannya, sumber itu adalah eksistensi dan dengan sumber itu kita bisa berpikir tentang manusia.”

Melalui pemikiran filsafat manusia dimungkinkan dapat melihat kebenaran tentang sesuatu di anatara kebenaran-kebenaran yang lain. Disamping itu filsafat memberikan petunjuk diantara kebenaran-kebenaran yang lain. Disamping itu filsafat memberikan petunjuk dengan metode pemikiran reflektif dan penelitian penalaran supya kita dapat menyerasikan antara logika, rasio, pengalaman, dan agama di dalam usaha manusia mencapai pencurahan kebutuhannya.

Prof. DR. R.F. Beerling dalam bukunya “Filsafat Dewasa Ini”, menulis sebagai berikut, “filsafat bersumber pada manusia dan mengenai manusia. Dia adalah tingkat tertinggi dari kegelisahan yang telah saya katakana. Dia mengajukan pertanyaan yang dilakukan secara radikal sekali. Dia adlah jawaban yang akan member kepuasan pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi yang selalu mengandung pertanyaan-pertanyaan baru sehingga tak pernah tentram benar”.

Prof. Drs. I. R. Puja Wayatna menulis dalam buku “Pembimbing ke Arah Alam Filsafat”, “maka daripada itu ada kemungkinan agama member pengetahuan yang lebih tinggi dari filsafat, pengetahuam yang tidak tercapai oleh budi biasa, karena demikian tingginya hal itu hingga hanya dapat diketahui karena diwahyukan.”

Dalam aktivitas menekuni misi filsafat, filsafat juga mengalami nasib yang sama dengan ilmu-ilmu pengetahuan khusus. Ia ndihadpakan kepada persoalan yang di luar kemampuan subjektif, spekulasi, dan alternatifnya untuk dijawab dengan tuntas, maka berarti filsafat menemukan era baru di luar jangkauannya yang bermuara kepada agama.

5.      Sumber Kebenaran Filsafat dalam Pandangan Islam
Secara prinsip Islam menempatkan filsafat dan ilmu pengetahuan di tempat yang layak dan tinggi. Bahkan banyak ayat-ayat Alquran secara tegas member dorongan bagi pemikiran-pemikiran filosofis. Seperti ayat yang berikut ini







Artinya:
“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendakinya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebajikan yang banyak, dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” (Albaqarah/2:269)

Hikmah di sini diartikan sebagai “pengetahuan istimewa yang dianugerahkan Allah kepada hambaNya yang dikehendakiNya. Muhammad Abduh mengartikan hikmah sebagai rahasia-rahasia dari berbagai persoalan serta pemahaman hukum-hukum dan menerangkan kemaslahtannya serta jalan (cara) yang ditempuh untuk mengamlkannya. Syekh Mustofa Almaraghi mengatakan “hikma ialah ilmu yang berfaedah yang memberikan pengaruh dalam jiwa sehingga mendorong (mengarahkan) kemauan kepada perbuatan yang diinginkannya, yang membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.” Dalam buku  “Ma’anil Falsafah” Dr. Ahmad Fuad Alihwani menyatakan bahwa “Filsafat adlah sesuatu yang terletak di antara agam dan ilmu pengetahuan. Ia menyerupai agam pada 1 sisi karena ia mengandung permasalahan-permasalahan yang tidak dapat diketahui dan dipahami sebelum orang beroleh keyakinan, dan ia menyerupai ilmu pengetahuan di sisi lain, karena ia merupakan sesuatu hasil daripada akal pikiran manusia, tidak hanya sekedar mendasarkan kepada taklid dan wahyu semata-mata, agama dengan keyakinannya dapat melangkah pada garis-garis pengertian yang terbatas.”

Imam Alghazali yang semula menentang filsafat, kemudian berbalik menggunakan filsafat dalam menguraikan ilmu tasawuf. Ia menganggap besar faedahnya mempelajari filsafat, dan banyak ayat-ayat Alquran menyuruh manusia berpikir mengenai dirinya, dan mengenai sarwa alam untuk meyakini adanya Tuhan sebagai Sang Pencipta.








Artinya:
“Mengapa mereka tidak memperhatikan bagaimana unta dijadikan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (Alghasyiyah/88: 17-20)


Dari uraian ayat tersebut tampak bahwa Islam sangat menghargai penggunaan akal dan mendorong manusia untuk berpikir, tidak mencegah manusia mempelajari filsafat, bahkan memberikan anjuran untuk berpikir menurut logika dalam rangka memperkuat kebenaran yang dibawa oleh Alquran.

Betapapun pentingnya mempelajari filsafat, namun harus diakui bahwa kebenaran filsafat adalah kebenaran spekulatif, sebab ia berbicara tentang hal-hal yang abstrak yang tidak dapat dieksperimen, diuji, atau diriset. Sedang ilmu pengetahuan, dia adlah kebenaran positif karena dapat diuji secara empiris, tetapi kedua-duanya adalah produk akal budi manusia (rasio) yang juga bersifat nisbi. Oleh sebab itu mempelajari filsafat, dalam Islam bertujuan agar kita (sebagai manusia) dapat mengambil manfaat dari akal pikiran yang bermacam-macam itu untuk kekuatan dan kejayaan Islam itu sendiri. Kita tidak boleh mengikuti ajaran-ajaran kefalsafahan produk manusia, kemudian mempertentangkannnya dengan Islam. Harus diyaini bahwa apa yang ada dalam Islam jauh lebih tinggi dan unggul serta l;ebih lengkap dibandingkan dengan ajaran-ajaran filsafat yang ada.








Artinya:
“Yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (Az-Zumar/39: 18).

C.    AGAMA
1.      Pengertian
Selain kata agama, dikenal pula kata din dari bahasa Arab, dan kata religi dari bahasa Eropa. Untuk mendapatkan pengertian tentang agama dan religi, berikut ini dikemukakan beberapa kutipan.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia, agama (umum), manusia mengakui dalam agama adanya yang suci: manusia itu insyaf, bahwa ada suatu kekuasaan yang memungkinkan dan melebihi segala yang ada. Kekuasaan inilah yang dianggap sebagai khalik (asal yang segala ada). Tentang kekuasaan ini bermacam-macam bayangan yang terdapat pada manusia, demikian pula cara membayangkannya. Pemikiran Tuhan dianggap oleh manusia sebagai tenaga gaib di seluruh dunia dan dalam unsure-unsurnya atas segala khalik rohani. Tenaga gaib ini dapat menjelma antara lain dalam alam (Animisme) dalam buku suci (Taurat) atau dalam manusia (Kristus).
Menurut H. Moenawar Chalil: “kata din itu masdar dari kata kerja dana yadinu, yang mempunyai arti, cara atau adat ebiasan, peraturan, undang-undang, taat atau patuh, menunggalkan ketuhanan, pembalasan, perhitungan, hari kiamat, nasihat, agama.”
Dan menurut Prof. Dr. M. Driyarkara S. J.: “bahwa istilah agama kami ganti dengan religi, karena kata religi lebih luas, jadi juga mengenai gejala-gejala dalam lingkungan hidup, dan prinsip. Istilah religi menurut asal katanya berarti ikatan atau pengikatan diri. Oleh sebab itu, religi tidak hanya untuk kini atau nanti melainkan untuk selama hidup. Dalam religi manusia melihat dirinya dalam keadaan yang membutuhkan, membutuhkan keselamatan dan membutuhkan secara menyeluruh.”

2.      Klasifikasi Agama
Pada umumnya agama diklasifikasikan menjadi 2 kelompok, yaitu agam wahyu (revealed-religion) dan agam nonwahyu (nonrevealed-religion). Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut.
a.       Agama wahyu, adalah agama yang diturunkan Allah dari langit melalui malaikat Jibril kepada para nabi dan rasul Allah untuk disampaikan kepada umatnya. Oleh karena itu, agama wahyu disebut juga dengan agama langit, agama samawi, agama profetis, din as-samawi, revealed religion.

Yang termasuk dalam kelompok agama wahyu, adalah sebagai berikut.
1.      Agama Islam, dengan kitab sucinya Alquran yang diturunkan Allah kepada nabi Muhammad saw.,melalui malaikat Jibril, untuk seluruh manusia dan semesta alam.
2.      Agama Kristen (nasrani) dengan kitab sucinya “Injil” diturunkan Allah kepada Isa as., melalui malaikat Jibril untuk kaum Bani Israil.
3.      Agama Yahudi dengan kitab sucinya “Taurat” diturunkan kepada nabi Musa as., melalui malaikat Jibril untuk kaum Bani Israil.

b.      Agama nonwahyu, adalah agama yang lahir berdasarkan pemikiran atau kebudayaan manusia. Pada awalnya menurut historis agama nonwahyu diciptakan oleh filosuf-filosuf masyarakat sebagai ahli piker, atau oleh pemimpin-pemimpin dari masyarakat, atau oleh penganjur dan penyiar masyarakat itu. Agama nonwahyu mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan perkembangan pemikiran atau budaya masyarakat itu (animism, dinamisme, politeisme, monoteisme). Oleh karena itu, agama nonwahyu dinamakan juga dengan agam budaya, agam bumi, agama ra’yu, din at-thabi’I, din al-ardi, natural religion, nonrevealed religion.
Yang termasuk dalam kelompok agama nonwahyu: Hinduisme, Jainisme, Sikhisme, Zoroasterianieme, Konfusioniesme, Thaoisme Shintoisme, Budhisme.

3.      Ciri-ciri Agama
Ciri-ciri agama pada umunya adalah sebagai berikut.
a.       Agama adalah suatu system tauhid atau system keimanan (keyakinan) terhadap eksistensi suatu yang absolute (mutlak), di luar diri manusia yang merupakan kausaprima atau pangkal pertama dari segala sesuatu termasuk dunia itu dengan segala isinya.
b.      Agama merupakan satu system ritual atau peribadatan (penyembahan) dari manusia kepada sesuatu yang absolute.
c.       Agama adalah suatu system nilai atau norma (kaidah) yang menjadi pola hubungan manusiawi antara sesame manusia, dan pola hubungan dengan ciptaan lainnya dari yang absolute.

Ciri-ciri agama wahyu, yaitu sebagai berikut.
a.       Mengakui eksistensi Allah dengan kebenaran yang mutlak dari Allah.
b.      Diturunkan dari langit dengan perantaraan malaikat Jibril kepada Rasul-Rasul Allah.
c.       Penyampaian wahyu Allah itu kepada para nabi dengan ditentukan waktu kelahirannya.
d.      Memiliki kitab suci yang diwariskan Rasul Allah dengan isinya yang tetap yang dikodifisikan dalam Taurat, Injil dan Alquran.
e.       Konsep ketuhanannya serba Esa-Tuhan yang murni.
f.       Kebenaran prinsip-prinsip ajaran agama itu dapat bertahan kepada kritik akal manusia, mengenai eksistensi dan kebenaran alam gaib akal dapat menerimanya.
g.      Ajarannya tidak berubah sepanjang zaman (universal) meskipun zaman terus berkembang, bahkan cocok dalam situasi apapun dan dimana pun.


Ciri-ciri agama nonwahyu, yaitu sebagai berikut.
a.       Tidak mengakui eksistensi wahyu Allah sebagai kebenaran yang mutlak.
b.      Tidak diturunkan dari langit, berarti tidak mengenal malaikat.
c.       Tidak disampaikan oleh Rasul Allah.
d.      Tidak memiliki kitab suci yang diwariskan oleh nabi.
e.       Konsep ketuhannya bukan Serba Esa-Tuhan.
f.       Kebenaran prinsip ajaran agam tidak bertahan terhadap kritik akal manusia, mengenai alam gaib tak termakan oleh akal manusia, dan mengenail alam nyata terbukti kekeliruan ilmunya.
g.      Terjadi perubahan mental dan social dari masyarakat penganutnya.

Dijelaskan oleh para ahli, bahwa ketiga agama wahyu (Yahudi, Nasrani, Islam) yang masih bertahan kemurnian tauhidnya hanya agam Islam. Memang ketiga agama tersebut mempunyai asal yang satu. Akan tetapi, perkembangan masing-masing dalam sejarah mengambil jalan yang berlainan, sehingga timbullah perbedaan antara ketiganya.  Agama Yahudi dan Nasrani tidak lagi dipandang sebagai agama samawi yang murni, para ahli berpendapat bahwa kitab suci kedua agama tersebut mengalami perubahan, yaitu terdapatnya intervensi pemikiran manusia kedalam kitab suci mereka. Dari sudut, ketuhannayapun kedua agam tersebut ternyata tidak lagi menganut keesaan yang murni. Seperti dalam agama nasrani Tuhan yang satu terdiri dari tiga oknum yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Ruhul Kudus (Trinitas). Sedangkan Islam adalah agam tauhid murni, jadi agama samawi murni sekarang hanyalah agama Islam, seperti yang dijelaskan dalam Alquran.






Artinya:
“Agama (yang benar) dalam pandangan Tuhan ialah Islam (menyerahkan diri) kepada-Nya. Dan mereka yang diberi Kitab bertikai hanya setelah pengetahuan dating kepada mereka, (dan mereka bertikai) karena dipengaruhi perasaan dengki.” (Aliimran/3: 19).

Kitab suci agama Islam adalah satu-satunya kitab suci yang masih terpelihara keaslian dan keautentikannya, tidak mengalami perubahan sejak diturunkannya pada abad ke-6 Masehi sampai sekarang, bahkan sampai akhir zaman. Dalam hal ini Allah menegaskan dalam firman-Nya.




Artinya:
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Alhijr/15: 9).

4.      Agama Sebagai Sumber Kebenaran
Dalam hal ini yang dibicarakan adalah sumber kebenaran agama Islam. Sudah dijelaskan dalam uraian di atas bahwa agama Islam adalah satu-satunya agama wahyu yang masih terpelihara kemurnian tauhidnya dan kemurnian kitab sucinya. Oleh karena itu kebenaran agam Islam adalah mutlak dan abadi. Islam mengajarkan bahwa kebenaran yang hakiki hanyalah berasal dari Tuhan (wahyu), dan bahwa yang berasal dari Tuhan adalah kebenaran yang pasti.





Artinya:
“Kebenaran (Alhaq) itu datangnya dari Tuhanmu karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.” (Aliimran:60)






Artinya:
“Dengan kebenaran, Kami turunkan (Alquran) dan dengan kebenaran itu pula ia turun. Dan tiadalah Kami utus engkau melainkan sebagai penyampai berita gembira dan pemberi peringatan.” (Bani Israil/17: 105)




Artinya:
“Dan katakanlah, kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barang siapa yang ingin (beriman hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah dia kafir.” (Alkahfi/18: 29)

Ajaran agama Islam didalamnya terdapat aspek-aspek yang bersifat prinsip, yang memang tidak dapat diganggu gugat sama sekali, apalagi merubahnya, seperti dalam masalah aqidah (rukun iman), kesaaa Allah, kemahkuasaan-Nya dan kesempurnaan-Nya, dan tentang ibadah-ibadah mahdhah. Disamping itu; terdapat pula aspek-aspek ajaran Islam yang bersifat elastic dan tidak monotif yang selalu dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman. Aspek-aspek itu menyangkut sebagian masalah muamalah yang mengatur hubungan antarmanusia dengan lingkunannya (manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan). Dalam aspek ini Islam hanya meletakkan prinsip-prinsip pokok yang bersifat universal, sehingga terbuka kesempatan bagi penganut Islam (cendekiawan, ulama) untuk mengembangkan ajaran Islam dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip pokok itu. Contoh dalam masalah hukum, diterapkan prinsip keadilan, dalam ketatanegaraan (politik) diterapkan prinsip musyawarah dan persamaan dalam perdagangan atau ekonomi ditetapkan prinsip jangan menipu, jangan makan riba, jangan mengadakan manipulasi, dan sebagainya.

Sangat jelas bahwa ajaran Islam itu mencakup berbagai dimensi kehidupan manusia (multi dimensional) senantiasa dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan, dan tidak pernah mengenal istilah ketinggalan zaman, asalkan prinsip-prinsip pokok yang terdapat dalam sumber original islam yaitu Alquran dan Alhadis, tidak pernah dilanggar atau dilangkahi, sehingga nilai-nilai original Islam tetap terpelihara sepanjang masa. Disitulah letak keabadian ajaran Islam yang dikatakan bahwa kebenarannya bersifat mutlak (absolute). Oleh karena itu, manusia berkewajiban untuk mencari dan menggali nilai-nilai itu dari Alquran dengan menggunakan berbagai kemampuan ijtihad atau daya analisis yang terdapat dalam diri manusia. Dengan demikian, Alquran sebagai wahyu Allah yang terakhir di dunia ini merupakan sumber yang tidak pernah berhenti untuk pengembangan berbagai bidang kehidupan manusia itu sendiri. Dengan kata lain, Alquran merupakan sunnatullah yang beriringan danberdampingan dengan hukum-hukum alam yang menjadi dasar pergerakan dan perjalanan ala mini. Sehingga antara alam dengan Alquran tidak dipisahkan satu sama lain, kerana keduanya saling menafsirkan dan saling memberikan petunjuk kepada manusia mengenai jalan yang harus ditempuh untuk menciptakan progress dalam kehidupan duniawi dan kesejahteraan ukhrawi.

D.    PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ILMU, FILSAFAT, AGAMA
Sebagai kesimpulan dapatlah diadakan perbandingan antara ketiganya dengan melihat unsur-unsur yang menjadi titik persamaan dan titik perbedaannya.

Persamaannya, adalah sebagai berikut.
a.       Ketiganya merupakan sumber atau wadah kebenaran (objektivitas) atau bentuk pengetahuan.
b.      Dalam pencarian kebenaran (objektivitas) itu, ketiga bentuk pengetahuan itu masing-masing mempunyai metode, system dan mengolah objeknya selengapnya sampai habis-habisan.
c.       Ilmu pengetahuan bertujuan mencari kebnaran tentang mikrokosmos (manusia), makrokosmos (alam) dan eksistensi Tuhan/Allah. Agama bertujuan untuk kebahagiaan manusia dunia akhirat dengan menunjukkan kebenaran asasi dan mutlak itu, baik mengenai mikrokosmos (manusia), makrokosmos (alam) maupun Tuhan/Allah itu sendiri.

Perbedaannya, adalah sebagai berikut.
a.       Sumber kebenaran pengetahuan dan filsafat adalah sama, keduanya dari manusia itu sendiri, dalam arti pikiran, pengalaman, dan intuisinya. Oleh karena itu, disebut juga bersifat horizontal dan imanen. Sumber kebenaran agama adalah dari Allah di langit, karena itu disebut juga bersifat vertical dan transcendental.
b.      Pendekatan kebenaran ilmu pengetahuan dengan jalan riset, pengalaman, dan percobaan sebagai tolak ukurnya. Pendekatan kebenaran filsafat dengan jalan perenungan dari akal budi atau budi murni manusia secara radikal, sistematis, dan universal tanpa pertolongan dan bantuan dari wahyu Allah. Pendekatan ebenaran agam dengan jalan berpaling kepada wahyu Allah yang dikodifikasikan dalam kitab suci Taurat, Injil, dan Alquran.
c.       Sifat kebenaran ilmu pengetahuan adalah positif dan nisbi. Sifat kebenaran filsafat adalah spekulatif dan juga nisbi, sedangkan sifat kebenaran agama adalah mutlak (absolute) karena bersumber dari zat yang Maha Benar dan Maha Sempurna yaitu Allah.
d.      Tujuan ilmu pengetahuan itu hanyalah bersifat teoritis, demi ilmu pengetahuan dan umumnya pengalamannya untuk tujuan ekonomi praktis atau kenikmatannya jasmani manusia. Tujuan filsafat, kecintaan kepada pengetahuan yang bijaksana dengan hasil kedamaian dan kepuasan jiwa yang sedalam-dalamnya. Tujuan agama adalah kedamaian, keharmonisan, kebahagiaan, keselamatan, keselarasan, keridhoan dunia, dan akhirat.


















BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Kata ilmu secara etimologi berarti tahu atau pengetahuan. Kata ilmu berasal dari bahasa Arab ‘Alima – ya’lamu, dan science dari bahasa Latin Scio, scire artinya to know. Sedangkan secara terminology ilmu atau science adalah semacam pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri, tanda-tanda dan syarat tertentu.
Pada umunya objek atau lapangan ilmu pengetahuan itu ialah
1.      ilmu pengetahuan alam
2.      ilmu pengetahuan manusia.
Menurut UU Pokok Pendidikan tentang Perguruan Tinggi No. 22 Tahun 1961 di Indonesia, ilmu pengetahuan diklasifikasikan menjadi 4 kelompok, yaitu sebagai berikut.
1.      Ilmu Agama
2.      Ilmu kebudayaan
3.       Ilmu social
4.      Ilmu eksata dan teknik

Para ilmuwan Muslim, seperti Alkindi, Alfaradi, Alghazali, dan Ibnu Khaldun, mereka mengklasifikasian ilmu menjadi 2 kelompok, yaitu sebagai berikut.
1.      Ilmu tanziliah
2.      Ilmu kauniyah

Dari segi etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani philosophia. Philo dari kata kerja philein yang berarti mencintai atau philia yang berarti cinta. Sophia berarti kebijaksanan. jadi phisolophia adalah cinta akan kebijaksanaan atau pengetahuan yang benar. Orang yang cinta kepada kebijaksanaan atau pengetahuan atau kebenaran disebut philosophus atau dalam bahasa Arab failasuf.
“objek material” dari filsafat itu adalah segala sesuatu (realita). Sedangkan “hal ada” itu diklasifikasikan atas 2 golongan, yaitu sebagai berikut.
c.       Ada yang harus ada, yang disebut ada yang absolute (mutlak) yaitu Tuhan, pencipta alam semesta,
d.      Ada yang tidak harus ada, yang disebut ada yang tidak mutlak, ada yang relative (nisbi), bersifat tidak kekal, yaitu ada yang diciptakan oleh ada yang mutlak (Tuhan pencipta alam semesta).
Dalam Kamus Bahasa Indonesia, agama (umum), manusia mengakui dalam agama adanya yang suci: manusia itu insyaf, bahwa ada suatu kekuasaan yang memungkinkan dan melebihi segala yang ada. Kekuasaan inilah yang dianggap sebagai khalik (asal yang segala ada).
                        Agama diklasifikasikan menjadi 2 kelompok, yaitu:
1.      Agama wahyu
2.      Agama nonwahyu

Ciri-ciri agama pada umunya adalah sebagai berikut.
1.      Agama adalah suatu  system tauhid atau system keimanan .
2.      Agama merupakan satu system ritual atau peribadatan
3.      Agama adalah suatu system nilai atau norma.


B.     Saran
Agama islam itu tidak pernah mempersulit seseorang apabila kita melakukan dengan ikhlas maka semua aturan –aturan islam akan sangat mudah untuk kita jalani, Allah SWT tidak akan memberi sesuatu baik itu aturan ataupun cobaan melebihi kemampuan hambaNya. Serta carilah ilmu, karena ilmu itu tidak akan pernah sia-sia.


7 komentar: